by admin at 01-26-2021, 08:10 AM
[Image: Orthodox_funeral_service.jpg]
“Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.” (Pengkhotbah 7:4) Rumah duka adalah tempat di mana manusia melihat untuk terakhir kali teman, saudara atau kerabat mereka sebelum dikuburkan, dan kita tahu bahwa ketika jasad manusia sudah dimasukkan di tanah, maka tubuhnya akan membusuk melalui mekanisme fisika, kimia dan biologi yang ada di alam. Dengan demikian di rumah duka, kita diingatkan bahwa “pada dasarnya semua orang akan mengalami kematian” karena manusia pertama telah menggunakan kehendaknya secara salah dan akibatnya: ia terputus dari Sumber Hidup yaitu Sang Ilahi itu sendiri. Kematian yang akan dan pasti dialami setiap manusia, menjadi perhatian khusus dari sang penulis kitab, yaitu “Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem” (1:1), dan secara tegas rumah duka adalah tempat bagi orang berhikmat. Mengapa? Pertama: Tempat duka di mana kita melihat kematian, kita disadarkan bahwa hidup ini hanya sekali – lalu mati. Hidup tidak boleh dipergunakan secara salah. Kita dituntut selalu waspada dan berjaga-jaga, menjaga serta memanajemen hati kita, sebab “mereka yang mati saat hidup, maka mereka akan hidup setelah mati, sedangkan mereka yang tidak mati saat hidup, maka mereka tidak akan hidup saat mati.” Jangan sampai kehidupan sekarang ini membawa kepada kematian kekal, yaitu terputus dari Sang Ilahi, Sumber Hidup yang Kekal itu. Kedua: Orang yang mati tanpa kesalehan, pengharapan dan iman, maka kematiannya ini adalah kematian yang menyedihkan dan bukan kematian yang membawa sukacita. Bagi orang benar, maka kematian adalah sarana manusia untuk melepaskan diri dari kematian yang menjadi parasit pada keberadaan manusia. Dengan ini kita diingatkan bahwa ketika hidup, kita harus terus berpegang dan manunggal dengan Sang Saleh, Sang Pengharapan dan Sumber Iman itu, sehingga kehidupan kita selalu memancarkan senantiasa apa yang menjadi sifat dari Sang Ilahi. Dengan memandang kematian, sepatutnya kita semakin bijak dalam hidup ini. Berpikir yang benar, bersikap yang benar dan berperilaku yang benar, sesuai Gambar yang menjadi pola manusia diciptakan. “Kemuliaan bagi Allah di tempat tinggi, damai di bumi dan perkenan bagi manusia. Amin.”
by admin at 01-14-2021, 01:24 PM
[Image: r960-f663802a86509e329ec380a0fa3bd1da.jpg]
Mengingat dan mendoakan orang yang telah meninggal di dalam Kristus --bukan berdoa kepada orang meninggal, sebab banyak orang salah kaprah menyamakan dua hal tersebut-- adalah wujud kasih nyata sesama manusia, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Mereka yang masih hidup maupun yang telah meninggal di dalam Kristus, semuanya adalah satu sebagai anggota Gereja, dan tidak ada pemisahan di antara kedua. Maka di sini kita menolak bentuk "Nestorianisme" dalam Ekklesiologi, seakan-akan Gereja yang di bumi dan Gereja yang di firdaus itu terpisah-pisah yang berdiri sendiri-sendiri.

Kita mengingat dan mendoakan mereka juga sebagai pengakuan kita bahwa mereka ini bukan binatang, tetapi manusia yang dijadikan dalam gambar Allah, memiliki roh yang kekal. Menunjukkan bahwa manusia itu mulia di hadapan Allah. Dengan menolak mengingat dan mendoakan mereka, kita mempersamakan mereka ini seperti binatang yang setelah mati lenyap begitu saja, dan inilah yang diinginkan iblis, ia ingin manusia saling membenci dan melupakan sesamanya, menaburkan racun bahwa manusia yang mati itu selesai, padahal kehidupan sebelum kematian itu hanyalah setitik jjika dibandingkan kehidupan setelah kematian yang adalah garis panjang tanpa ujung.
by admin at 11-26-2020, 01:39 PM
Tahukah anda, bahwa cara yang tepat untuk menyapa seorang presbiter atau uskup adalah meminta berkat-berkatnya dan mencium tangan kanannya? Bagaimana cara melakukannya?

Dekati Presbiter atau Uskup dengan telapak tangan menghadap ke atas, telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri dan ucapkan "Bapa/ Romo" atau "Yang Mulia" bila dengan uskup, “Berkatilah/ Mohon berkat”.
Imam akan membuat tanda salib, dan menumpangkan tangan kanannya ke atas tangan anda, kemudian ciumanlah tangannya.

Ini jauh lebih tepat dan sesuai dengan tradisi daripada menjabat tangan mereka.
Selain itu, Presbiter dan Uskup bukanlah sekedar "seorang laki-laki" saja. Ketika anda mencium tangan mereka, anda memperlihatkan penghargaan pada jabatan keimaman/ jenjang rohaniwan mereka, mereka adalah orang yang "memberkati dan menguduskan" anda dan yang mempersembahkan persembahan kudus atas nama anda.

Jadi lain kali bila menyapa Presbiter atau Uskup, jangan menjabat tangannya, tetapi memintalah berkat.

Js. Jerome mengajarkan: Kita menghormati para pelayan agar penghormatan yang diberikan kepada mereka akan direfleksikan kembali kepada Tuhan.
by admin at 11-26-2020, 01:16 PM
Kidung Kerubim atau Kherubikon adalah salah satu kidung yg terdapat dlm liturgi suci dalam tradisi Siria-Byzantine yg kita temukan dalam teks liturgi Basilius Agung dan Yohanes Krisostomos.

Salah satu ungkapan menarik dari teks kidung ini adalah:
"Kita yang secara rahasia menggambarkan Kerubim…"

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, teks ini sedikit mengalami distorsi pengertian, distorsi semacam ini adalah wajar dalam proses menerjemahkan sebab tiap bahasa ada keterbatasan kosakata yg digunakan.

Makna teologis:

Kita dikatakan "menggambarkan" itu bukan diartikan secara literal seperti melukis atau mencoret kertas menghasilkan suatu karya seni. Tetapi kita yangg sedang liturgi di sini, yaitu di dunia yg nampak ini sedang merepresentasikan atau merefleksikan bagaimana para kerub ini sedang berliturgi di sekitar takhta Allah, sesuai apa yg dilihat oleh Nabi Yesaya.

Jadi apa yang sedang kita ibadahkan di dunia adalah bayangan ibadah di sorga. Apa yang kita lakukan di sini secara nampak adalah sama dengan apa yang di sorga yang tak nampak.

Namun kita tidak bisa menjelaskan bagaimana dan seperti apa, karena hal ini misteri dan bersifat sakramental sebab ini terkait dengan Ekaristi.

Selanjutnya, dituliskan dalam teks kidung ini bahwa kita:
"…mengidungkan kidung trisuci…"

Kidung trisuci dalam bahasa Yunani disebut Trisagion, yang dalam teks awalnya sebagai berikut:

"Agios o Theos, Agios Iskhyros, Agios Athanatos, eleison ymas" (Allah Mahakudus, Sang Kuasa Mahakudus, Sang Baka Mahakudus, kasihanilah kami).

Dengan demikian, inti dari penyembahan atau liturgi dalam Gereja Timur adalah Allah sendiri, yang dalam diri Allah ini bersemayam hypostasis atau qnoma Firman Allah dan Roh Allah, yang dirumuskan dengan istilah Trinitas atau Triados. Karena itu teks kidung ini menuliskan:

"…kepada Sang Tritunggal yang memberi hidup…"

Penyembahan kepada Allah ini tidak dapat ditawar atau diotak-atik, sebab memang Allah adalah sumber dari segala sesuatu:

di sorga dan di bumi, yang nampak dan tak nampak,

hanya Allah yang Mahakuasa dan kepada-Nya kita beriman dan menggantungkan hidup kita, dan pengakuan iman akan Allah ini yang menjadi hal utama dalam Gereja, sesuai pengakuan iman kita:

"Pistevo en ena Theon, Pater Pantokratora…" (Aku percaya kepada satu Ilah: Sang Bapa Mahakuasa).

Jadi kidung Gereja bukan disusun atas dasar keinginan emosional manusia belaka, tetapi sesungguhnya semua bagi Allah dan dari Allah, dan kepada-Nya kita menghaturkan puji syukur dan sembah. Amin.
by admin at 11-26-2020, 01:12 PM
Relik adalah material, baik berupa bagian tubuh dari para orang kudus yang telah meninggal, atau benda-benda yang pernah dipakai atau benda-benda rohani yang bersentuhan dengan mereka. Benda-benda ini sangat dihormati oleh Gereja Para Rasul dan biasanya ditempatkan di peti khusus, medali, kartu doa, ikon, antimension atau ditanam di altar beberapa gereja di dunia.


Mengapa menghormati Relik?

Gereja menghormati Relik sama halnya dengan menghormati ikon, sebagai pengingat "yang kelihatan" dari para orang kudus gereja yang dekat dengan kemuliaan Tuhan. Penghormatan akan relik atau ikon juga sebagai bentuk kesatuan Gereja, antara Gereja yang ada di dunia (kita sedang berziarah) dengan Gereja yang telah menang di Firdaus (para orang kudus).

Relik bukanlah jimat atau benda magic. Segala mukjizat yang terjadi melalui relik-relik itu adalah atas kemurahan Tuhan semata yang berkarya secara misteri melalui benda-benda tersebut.

Gereja tidak pernah mengajarkan bahwa relik atau ikon kudus adalah seperti jimat yang mempunyai kuasa secara terpisah dari kuasa Allah. Allah sendirilah yang berkedaulatan penuh dan mempunyai kebebasan untuk menyatakan kuasa-Nya, dan salah satunya dengan menggunakan relik. Dan memang begitu banyak mukjizat, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, lewat relik di dalam sejarah Gereja dari awal sampai saat ini. Karena keberadaan relik tak lepas dari Gereja, maka penggunaan relik perlu mendapatkan bimbingan rohani yang tepat, agar umat tidak memperlakukan relik secara salah.

Itulah sebab, para Bapa Gereja selalu mengingatkan bahwa penghormatan yang diberikan kepada relik itu relatif, artinya terkait dengan karya Roh Kudus dalam hidup orang kudus itu. Sumber rahmat dan sasaran penyembahan tetap hanya Allah sendiri yang berkarya dalam dan melalui orang kudus itu. Orang kudus hanyalah hamba-hamba Allah yang digunakan Allah sebagai sarana keselamatan bagi orang lain.


Tinjauan Kitab Suci dan Sejarah


PERJANJIAN LAMA

>> 2 Raja-raja 2:13-14
Tentang bagaimana Elisa membawa jubah Elia dan memukulkannya di sungai Yordan, sehingga air terbelah, sehingga Elisa dapat menyeberangi sungai Yordan.

>> 2 Raja-raja 13:20-21
Sesudah itu matilah Elisa, lalu ia dikuburkan. Adapun gerombolan Moab sering memasuki negeri itu pada pergantian tahun.
Pada suatu kali orang sedang menguburkan mayat. Ketika mereka melihat gerombolan datang, dicampakkan merekalah mayat itu ke dalam kubur Elisa, lalu pergi. Dan demi mayat itu kena kepada tulang-tulang Elisa, maka hiduplah ia kembali dan bangun berdiri.

>> Keluaran 13:19; Yos 24:32
Di dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa Musa membawa tulang-tulang Yusuf sebagai pemenuhan akan permintaan Yusuf


PERJANJIAN BARU

>> Matius 9:20-Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubahNya. Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

>> Matius 14:35-36
Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya.
Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.


SEJARAH GEREJA PARA RASUL

>> Kisah Rasul 5:15-16
Menceritakan bagaimana orang-orang membawa orang-orang sakit, sehingga minimal mereka dapat terkena bayangan dari rasul Petrus, dan kemudian disembuhkan.

>> Kisah Rasul 19:11-12
Diceritakan bahwa sapu tangan dan kain yang pernah dipakai oleh Paulus dapat menyembuhkan penyakit-penyakit.


Gereja Purba / Para Bapa Gereja Purba

Perkembangan penghormatan terhadap relikwi ini dapat ditelusuri mulai dari pertengahan abad ke dua, dimana kita dapat melihat surat dari jemaat (Gereja) di Symrna yang menginginkan jenazah yang tertinggal dari Polikarpus yang dihukum bakar di tiang (156 – 157).

Di surat tersebut dikatakan “Kami mengambil tulang-tulangnya, yang jauh lebih berharga daripada batu-batu mulia dan lebih murni daripada emas murni, dan meletakkannya di sebuah tempat yang pantas, di mana Tuhan akan mengijinkan kami untuk berkumpul bersama, sesering yang kami dapat, dalam kebahagiaan dan sukacita, dan untuk merayakan hari kemartirannya.”

Beberapa tulisan orang kudus, seperti Js. Heronimus (340-420) yang mengatakan “Kita tidak menyembah, karena takut bahwa kami harus bersembah sujud kepada ciptaan daripada kepada Sang Pencipta, tetapi kita menghormati relik dari para martir sehingga kita dapat menyembah Dia, yang empunya para martir”.

Kemudian Cyril dari Alexandria (378-444) mengatakan “Kita, bukanlah menganggap bahwa para martir kudus sebagai tuhan, atau bersembah sujud menyembah mereka, tetapi hanya secara relatif dan secara hormat [ou latreutikos alla schetikos kai timetikos].”

Js. Yohanes Krisostomos (347 - 407), selalu mengingatkan bahwa salah satu tujuan penghormatan kepada relik ialah untuk mendorong orang Kristen untuk meneladani keutamaan-keutamaan orang kudus yang relikuinya dihormati melalui doa-doa Gereja.

Pada Sidang ketujuh 13 oktober 787 - Dewan Konsili ekuminis ke-VII dikota Nikea mengeluarkan deklarasi iman tentang Penghormatan (veneration) terhadap ikon-ikon kudus.
Dalam kanon ke-VII yang mengisyaratkan bahwa setiap altar gereja harus memiliki atau berisi sebuah relik kudus (di dalam antimensi).

Dari pemaparan di atas, kita melihat bahwa relik mempunyai dasar teologis yang kuat, baik ditinjau dari Alkitab, perkembangan historis, dan juga perkembangan teologis. Relik dapat membawa umat kepada Tuhan yang memberikan inspirasi, teladan dan berkat kepada para orang kudus. Pada akhirnya ini dapat memberikan inspirasi kepada kita untuk mengikuti jejak orang kudus yang bekerja sama dengan rahmat Tuhan, sehingga seperti mereka, kita bisa tetap setia beriman dan berbuat kasih sampai akhir hayat kita. Kita tidak dapat memperlakukan relikwi sebagai sebuah jimat yang mendatangkan keuntungan bagi kita. Sebab, kalaupun terjadi mukjizat, kita harus senantiasa mengingat bahwa itu semua adalah karena kebesaran Tuhan yang bekerja melaluinya.
by admin at 11-26-2020, 01:06 PM
Pencukuran rambut oleh doa yang diucapkan Presbiter sebelum dilangsungkannya pencukuran itu disebut sebagai “persembahan buah pertama dari rambutnya yang telah dicukur dari kepalanya”.

Rambut dipersembahkan karena itu yang “menutupi kepala agar tidak terluka oleh perubahan-perubahan cuaca”, demikian kata doa yang diucapkan oleh Presbiter itu
selanjutnya.

Oleh karena itu rambut merupakan mahkota penutup dari bagian tubuh yang paling penting yaitu kepala, karena pada kepala itu diletakkan oleh Allah “di tempat
yang tinggi, dan di situ telah Engkau tanamkan alat-alat indra yang paling banyak, yang
tidak saling berbenturan satu sama lain” dan “menyesuaikan semua anggota tubuh agar
berguna baginya.”

Demikianlah persembahan rambut merupakan lambang
persembahan dari puncak yang paling penting dari kehidupan orang yang baru dibaptis. Karena ini baru persembahan buah pertama dari baptisan, itu berarti akan ada
persembahan buah-buah berikutnya yang terus-menerus sebagai akibat dari baptisan sepanjang kehidupan orang Kristen baru ini.

Di situlah perjuangan melawan hawa-nafsu, dosa dan Iblis itu terjadi, sehingga buah kehidupan yang berkenan kepada Allah sebagai akibat rahmat Roh Kudus melalui Baptisan ini akan terlihat nyata.

Hidup si orang Kristen
baru ini tak lagi untuk dosa namun untuk Allah. Dan orientasi kehidupannya pun jadi
berubah, sebagaimana yang dikatakan: 
”Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:11-13). 

Selesai dengan Doa Pertama, Presbiter memberikan “Salam Damai” dan melanjutkan dengan Doa Kedua yang isinya sudah
menyebut si orang Kristen baru itu sebagai “anakMu ini”
Karena ia telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus dan air, artinya melalui baptisan oleh iman ia telah menjadi anak Allah (Galatia 3:26-27).

Juga dalam doa kedua ini dimohonkan “kunjungilah dia dengan RohMu yang Kudus, agar sebagaimana dia terus maju dalam kehidupan ini, sampai rambutnya memutih karena umur tua, boleh kiranya ia menyampaikan kemuliaan kepadaMu, memandang kebaikan Yerusalem di segala hari-hari hidupnya”.

Doa ini memohon Roh Kudus berkarya, karena hidup iman itu harus terus maju tanpa akhir
sampai akhir hayat di masa tua. Tujuan kemajuan kehidupan oleh kuasa Roh Kudus ini adalah agar si orang Kristen baru itu boleh terus-menerus menyampaikan kemuliaan kepada Allah, melalui persembahan buah-buah kehidupan terus-menerus sebagai akibat
rahmat baptisan yang dilambangkan dengan persembahan rambut sebagai buah pertama.

Dengan tujuan akhir agar si orang Kristen baru ini di segala hari-hari
kehidupannya dapat “memandang kebaikan Yerusalem” yaitu melihat dan mengalami karunia-karunia sorgawi sebagai akibat dan dampak baptisan, dan dengan tujuan akhir masuk ke Yerusalem itu sendiri, yaitu mengalami “theosis”.

Setelah Doa Kedua ini selesai
Presbiter memotong sedikit rambut si orang Kristen baru itu dalam bentuk Salib pertama yang ada di kening, kemudian yang ada di tengkuk, setelah yang ada di kanan dan kiri di atas kedua telinga, sambil berkata “ Hamba Allah…dicukur di dalam Nama Sang Bapa, Sang Putra, serta Sang Kudus”. Disahut segenap umat “Amin”.
by admin at 11-26-2020, 01:01 PM
Roma 8:19
Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.

Kata "menantikan" adalah bahasa kias dari Paulus, bukan menantikan seperti kita yg punya kesadaran akal-budi mengenai hal² rohani.

Sebagaimana keberadaan manusia itu bergantung kepada Kristus sebab pola manusia adalah Kristus dan mendapatkan keberadaan dirinya pada Kristus ?? maka segala alam itu bergantung kepada manusia, sebab manusia adalah puncak atau inti dari penciptaan segala makhluk sebagai mikrokosmos dari makrokosmos.

Ketika Kristus menang atas maut dan dimuliakan, manusia juga menang atas maut dan dimuliakan karena mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus.

Demikian pula segala makhluk juga turut serta dalam kemuliaan karena inti/ mahkota alam semesta (manusia) telah dimuliakan.

Jadi, kata "menantikan" itu adalah bahasa kiasan dari Paulus untuk menggambarkan bagaimana kerusakan yang dialami oleh segenap makhluk karena kejatuhan manusia.

Kitab Mazmur mengatakan: Binatang itu tidak berakal.

Akal di sini dalam kaitan akan kesadaran hati nurani dan memikirkan hal-hal rohani. Binatang tidak memiliki hal semacam itu.

Paulus mengatakan demikian karena dalam hikmat perenungan ilahi, melihat dari kedalaman batin sebagai manusia tentang ciptaan yang lain, dan dalam perenungan ilahi itulah surat Roma terilham.

Menggunakan bahasa seperti itu untuk menunjukkan kejatuhan manusia berdampak pada kejatuhan segenap alam.

Maximos Sang Pengaku Iman, Andreas dari Kreta, Nikolas Kabasilas juga menjelaskan hal serupa.
by admin at 11-26-2020, 12:57 PM
Gereja Timur (Orthodox) tidak memahami "pakaian kulit" sebagai bayangan korban Kristus saja tetapi "kemerosotan kodrat manusia" yang mana sebelumnya ia berjubahkan Kristus dan setelah itu ia berjubahkan pakaian binatang. Kemuliaan ilahi manusia telah hilang dan digantikan oleh kemuliaan daging.

Dan pakaian kulit tidak hanya mengenai kehidupan lahiriah, tetapi pikiran, akal dan jiwa ini juga kena imbas, kecerdasan manusia juga tak lebihnya dari pola berpikir binatang.

Manusia mengenakan sifat daging, tidak hanya memangsa dan berburu hewan untuk dimakan, tetapi juga memangsa manusia lain.

Dalam kaitan yg lebih jauh, maka kejatuhan dalam dosa ini membuahkan perilaku tubuh dan jiwa, yg menuntut ingin dipuaskan hawa nafsunya, hingga hidup ini semata-mata demi memuaskan hawa nafsu, dan membungkus hati nuraninya kepada kegelapan daging, demikian ia memandang manusia lain -bahkan Allah- sebagai obyek pemuasan dirinya. Dia berbuat ini dan itu hanya untuk semata-mata memuaskan hatinya. Makanya jauh dari Allah manusia itu dapat disebut "psikopat" (psykhe: jiwa, patos: sakit). Akhirnya dalam berteologi juga unik. Melihat dirinya butuh dipuaskan maka melihat Allah juga sebagai pribadi yang butuh pemuasan.

"Yang penting aku menikmati sex, senang², bisa menikmati hidup…" pemikiran semacam ini dikutuk oleh Gregorius Nazianzus, patriark Konstantinopel.

Mengerikan.

Manusia yang menolak Kristus dan Gereja-Nya, dia sedang mematikan dirinya dan menurunkan martabatnya sebagai makhluk yang tak berakal. Jiwanya tidak dapat memancarkan terang, karena dia menolak terang, dan akibatnya yang dipancarkan adalah kegelapan. Hal ini dapat dilihat dari pancaran hidupnya, penuh kesedihan, tidak dapat berpikir positif, mudah mengeluh dan menggerutu, berpikiran buruk tentang orang lain, mudah mencari kesalahan orang lain. Tidak ada damai sejahtera dan hidup penuh dengan ketakutan senantiasa.

Maka ada filsafat Yunani berbunyi demikian: "Manusia adalah pemangsa dari sesamanya."
by admin at 11-26-2020, 12:53 PM
Seorang Eksegesato yang benar mudah sekali melihat bahwa tuduhan di atas tidak sedang membahas dalam kaitannya dengan Perspektif Iman Kristiani, melainkan memaksakan pemahaman Iman sebelah ke dalam Iman Kristen. Mengapa?

Yesus sebagai "Sang Firman" tidak dinubuatkan. Firman adalah Atribut Ilahi yaitu salah satu pribadi Tritunggal Maha Kudus dalam Hakikat Allah yang Esa, yang sudah ada SEJAK MULANYA (Qidam) bersama-sama dengan Allah. Dan "pribadi Firman" yang sudah ada sejak mulanya itu, berinkarnasi dalam Kristus Yesus (Yohanes 1:1,14).

Berikut perkataan Yesus :
Qala lahum Yasu'a : alhaqqa alhaqqa aqulu lahum : qabla an yakuna ibrahim ana kaina"

Ia menyebut:

AL HAQQA... AL HAQQA

artinya : SESUNGGUHNYA...SESUNGGUHNYA sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." (Yoh 8:58)"

Ada penekanan di sana, artinya 'KEBENARAN TAK TERGUGAT BAHWA YESUS SUDAH ADA SEJAK KEKEKALAN, HAQQUL YAQIN'

Dari Teolog Konservatif, sampai Liberal sekalipun tidak bisa menolak FAKTA ini, sampai orang Yahudi pun marah sebab ucapan Yesus menyamakan diri dengan Allah.

Perkataan Yesus di atas membuktikan bahwa keberadaan-Nya sudah ada sejak dahulu.

Semua tahu bahwa nabi Yesaya hidup ribuan tahun sesudah Abraham. Dan Yesus sebagai Sang Firman sudah ada sebelum Abraham, bagaimana bisa Nabi Yesaya menubuatkannya ?

Yesus sebagai Sang Firman itu adalah Atribut Ilahi yaitu pribadi Allah yang sudah ada sejak mulanya.

Sebenarnya ayat Yesaya 55:11 itu menuliskan tentang gagasan dan nilai² Ilahi adalah rancangan Allah yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan "TIDAK AKAN GAGAL" serta akan jadi seturut kehendak Allah.

Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. (Yesaya 55:11)

Jujur saja ayat di atas bukan dalam artian nubuatan tentang Yesus sebagai Sang Firman karena memang Ia sudah ada sejak mulanya melainkan ayat di atas MEMBUKTIKAN Eksistensi Firman dalam Kristus Yesus.

Ada beberapa poin dalam ayat di atas yg mendukung pemahaman Teologis Kristen yaitu :

-Dalam ayat di atas Firman dituliskan dengan kata ganti orang ketiga tunggal (Dia) yang membuktikan Firman adalah salah satu pribadi Allah.

-Ayat di atas membuktikan bahwa Allah bisa MENGUTUS pribadi-Nya yang lain dan ini membuktikan bahwa tidak selamanya yang diutus Tuhan bukanlah Tuhan seperti klaim orang² yang mengkritik Kekristenan.

-Pribadi dari Firman ini bekerja sesuai kehendak Allah.

Kemudian ayat dalam Yohanes 8:17 dikatakan bahwa itu menuliskan tentang Yesus hanya sebagai penyampai Firman. Apakah benar demikian ?

Secara garis besar, tuduhan tsb adalah untuk meyakinkan orang Kristen bahwa Yesus bukan sang Firman, melainkan hanya penyampai Firman (rasul/ utusan).

Kita akan membahas arti leksikal Greek dalam Metode Lexicology [study kata] "Firman".

Jika kita mengacu pada Alkitab terjemahan (LAI) jelas kita akan kesulitan karena Lexicon Yunani pada dasarnya berbeda dengan bahasa Indonesia.

Berikut dua ayat Original Text Yunani yang memuat pengertian Firman sebagai pribadi Allah.

Yohanes 1:1
en arkhe en ho LOGOS kai ho LOGOS en pros ton theos

Terjemahan LAI : Pada mulanya adalah Firman ; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Yohanes 1:14:
kai ho LOGOS sarx egeneto kai eskênôsen en hêmin kai etheasametha tên doxan autou doxan hôs monogenous para patros plêrês kharitos kai alêtheias

Terjemahan LAI : Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Ayat² di atas adalah dasar Theologis yang menyatakan Firman sebagai Atribut Ilahi yaitu salah satu pribadi dalam hakikat Allah yang Esa.

Kata "Firman" dalam ayat di atas diterjemahkan dari kata "LOGOS".

Nah, sekarang mari bandingkan dengan ayat ini :

Yohanes 17:8 :
oti ta RHEMATA a edōkas moi dedōka autois, kai autoi elabon kai egnōsan alēthōs oti para sou exēlthon kai episteusan oti su me apesteilas

Terjemahan LAI : Sebab segala Firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Dalam ayat Yoh 7:18, kata yang diterjemahkan sebagai firman dalam bahasa aslinya adalah kata "RHEMA".

Walaupun dengan pengertian yang hampir sama, namun Atribut Ilahi yang digunakan Kristus Yesus sebagai Sang Firman adalah kata "LOGOS" bukan "RHEMA".

Kata RHEMA tidak pernah ditujukan kepada Atribut Ilahi Kristus sebagai "Sang Firman".

Juga yg harus diperhatikan bahwa walaupun banyak kata LOGOS dalam Alkitab perjanjian baru TAPI kata LOGOS yang menunjukkan Atribut Ilahi Kristus Yesus adalah kata LOGOS dalam Yohanes 1:1 dan 14 juga 1 Yohanes 5:7.

Mari kita lihat satu ayat di mana kata LOGOS dan RHEMA ditempatkan bersama, biar kita tahu perbedaan mutlaknya :

Yohanes 12:48
ho athetôn eme kai mê lambanôn ta RHEMATA  mou ekhei ton krinonta auton ho LOGOS hon elalêsa ekeinos krinei auton en tê  eskhatê hêmera

Artinya: Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan (RHÊMA)-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman (LOGOS) yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.

Justru pada ayat ini menempatkan LOGOS sebagai "hakim" di akhir zaman. Jadi Atribut Ilahi yang ditempatkan pada Yesus Kristus sebagai Sang Firman bukan sekedar kata-kata Verbal semata, melainkan Dia lah hakimnya pada akhir zaman.  Siapakah Hakim Akhir Zaman itu jika dia bukan Allah?

Inilah pentingnya pemahaman Lexicology dikarenakan kata dalam bahasa Yunani memiliki makna kata yang lebih dari satu, dan penempatan makna kata disesuaikan dengan konteks.

Jadi pertanyaan benarkah Yesus adalah FIRMAN? Sudah terjawab diatas, Rasul Yohanes dalam injilnya merujuk Yesus Kristus sebagai "HO LOGOS", Sang Firman.

Pertanyaan kedua, Adakah Yesus pernah menyatakan kalau dia adalah FIRMAN?

Yesus bersabda: "Aku adalah Alfa dan Omega, FIRMAN Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." (Wahyu 1:8)

Dan ayat itu merujuk kepada eksistensi Allah kita yang kekal.

Pengakuan Yesus di atas bukan hanya sekedar firman/ rhema atau kata-kata Verbal melainkan LOGOS yang dipakai sebagai istilah untuk merujuk oknum yang menyebabkan dan yang menguasai dan yang menciptakan alam semesta dan isinya.

"Oleh Firman TUHAN langit telah dijadikan... " (Mazmur 33:6)

Js. Ignatius menulis: 
"Sesungguhnya Allah itu Esa, Ia telah menyatakan diri-Nya sendiri melaluiYesus Kristus Putra-Nya, yaitu Firman-Nya yang keluar dari keheningan kekal (hos estin auto
seges proelton)
"Epistle of St. Policarp", dalam 1.B. Lighfoot - J.R. Hermer (ed.), Ibid, him. 195.

Ada banyak ayat² yang merujuk pada Yesus Kristus adalah Firman/Logos Allah, salah satunya adalah Yohanes 1:14 menyatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia.

Konsili Nikea (325 M) dan Konstantinopel (381 M), merumuskan bahwa Firman Allah yang homoousios "satu dan sehakikat dengan Sang Bapa dalam Dzat-Nya"
(teks Arab: wahid ma'a al-Abi fi al-Dzat) itu, "telah menjadi manusia" (wa shara insanan) dan telah turun dari sorga dan menjelma oleh kuasa Roh Kudus, dan dari Perawan Maryam dan menjadi Manusia" (teks Arab: nazala min as-sama'i wa tajjasada bi ar-ruh al-quddus wa min maryam al-adzra'i wa shara
insanan) [48]

Berbicara mengenai FIRMAN/ LOGOS, dan untuk memahami apa yang dikehendaki oleh Rasul Yohanes dalam InjiInya, memang harus sangat hati-hati.

Alkitab sebagai standar kebenaran dan firman Tuhan tidak akan gagal. Tuhan Yesus memberkati.
by admin at 11-26-2020, 12:47 PM
Dalam kitab Keluaran, kita melihat bahwa tak kurang²nya Allah menyatakan dirinya kepada bangsa Israel dalam kemuliaannya:

tiang awan, tiang api, laut terbelah, burung puyuh, manna, bahkan suara mengguntur di atas Gunung Horeb.

Namun mengapakah bangsa Israel tegar tengkuk?

Hal menarik yang dapat kita saksikan adalah, pemberontakan bangsa Israel di padang gurun kepada Allah terjadi sebelum kitab Imamat ini ada.

Pemberontakan demi pemberontakan terjadi berulang kali. Misalkan saja membuat patung lembu emas, pemberontakan kaum Korah, dll.

Apakah ada kaitan antara penulisan kitab Imamat dan surutnya pemberontakan bani Israel?

Kitab Imamat (Ibrani: Wayiqqra, berarti: "Dia (YHWH) memanggil"). Dari sini judul kitab dan tema kitab ini adalah "Bagaimana Allah memanggil Israel sebagai umat dan anaknya."

Jadi adalah sebuah kesalahan memandang bahwa Imamat adalah kumpulan peraturan dan undang-undang yang menyangkut ritual dan keagamaan agama Yahudi.

Ketika dalam kitab Imamat, disaksikan bagaimana umat Allah harus membuat ini dan itu, serta melakukan ritual ini dan itu, sesuai tema kitab ini adalah "Dia (YHWH) memanggil," maka kita tidak dapat melandaskan kitab ini dalam artian hukum secara tertulis tanpa melihat tema dan latar belakangnya.

Dalam kitab Imamat ini kita harus melihat bagaimana orang Israel harus hidup dan berbuat sebagaimana yang Allah kehendaki, dengan demikian sebagai bangsa yang dikuduskan (dipisahkan), maka orang Israel tidak boleh hidup seperti kelakuan bangsa² lain yang tak kenal siapa Allah.

Dan dari sini, umat Allah ini benar² berbeda dengan bangsa² yang hidup dalam dosa. Sehingga mereka dapat menjadi pelita bagi bangsa² lain.

Sesuai janji Allah kepada Abraham, leluhurnya, bahwa: "Dan melalui keturunanmulah semua kaum di muka bumi akan terberkati."

Dalam kitab Imamat kita melihat bagaimana terdapat kemah suci, tabernakel, kaki dian, lampu minyak, mezbah ukupan dan mezbah korban bakaran, yang Allah sendiri perintahkan kepada mereka untuk dibuat. Dan setelah semua itu dibuat, maka kuasa ilahi menanungi kemah suci dan Allah berdiam (bersemayam atau ber-tabernakel) di sana.

Setelah Allah bersemayam dalam kemah suci, pemberontakan umat Israel berangsur-angsur surut. Walaupun bukan berarti tidak ada pemberontakan.

Kemah suci adalah bentuk Allah yang imanen kepada bangsa Israel. Atau dikatakan "Allah tampak" dalam hidup mereka sehari-hari, bukan Allah yang jauh dan menakutkan bagi mereka.

Walaupun Allah bertabernakel dalam kemah suci, bukan berarti kemah suci itu adalah Allah, sebab Allah tak dapat dibatasi oleh bangunan apapun buatan manusia.

Yang bersemayam di sana adalah Memra (Devar) Elohim. Sekalipun ada di tengah-tengah mereka, namun kekuasaan Allah tetap tak terpikirkan, tak terbayangkan dan tak terukur, maka di kemah suci ini, Allah menyatakan diri secara "paradoks" bahwa:

"Ia ada di sini, namun tak tersentuh, Ia jauh di sorga, namun pada saat yang sama ia ada di antara kita."

Di sini imanensi Allah nampak, tetapi transendensi dan kesucian Allah tetap terjaga.

Allah yang menyatakan diri kepada bangsa Israel dengan "perantara" Memra-Nya.

Jadi sejak awal, manusia merindukan Allah yang "imanen" (bersemayam) di antara manusia. Inilah kerinduan manusia yang diciptakan dalam fitrah Allah:

ingin selalu dekat dan berada bersama penciptanya.

Sekalipun Allah dalam kemahakuasaannya Ia "menakutkan" dan "mengerikan" namun di saat yang sama Ia adalah Allah yang "dekat" dan "lembut penuh kasih."


"Kemuliaan bagi Allah di tempat tinggi, damai di atas bumi kepada manusia yang berkenan. Amin."
Welcome, Guest
You have to register before you can post on our site.
Username

Password


Login
Search Forums

Forum Statistics
Members: 49
Latest member: Thomas Duta Dharmawan
Forum threads: 23
Forum posts: 25
Online Users
There are currently 2 online users.
0 Member(s) | 2 Guest(s)